MENGUNGKAP TABIR UCAPAN KELINCI PERCOBAAN 

  • May 15, 2025
  • Ab Hadi

Sumenep, Kim Darma Bhakti. Kamis (15/5/25), Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti kelinci percobaan adalah kelinci yang dipelihara untuk mencobakan obat-obat, bahan kimia, dan sebagainya, yang masih dalam penyelidikan. Arti lainnya dari kelinci percobaan adalah orang yang pertama-tama dimanfaatkan sebagai percobaan.

Kelinci pertama kali digunakan dalam penelitian pengembangan vaksin pada tahun 1881, saat itu Louis Pasteur (Ilmuwan Prancis) menggunakan kelinci untuk mengembangkan vaksin rabies, seperti dikutip dari penelitian Pedro J. Esteves dkk., The Wide Utility of Rabbits as Models of Human Diseases.

Sejak penelitian Pasteur, kelinci dijadikan hewan percobaan dalam pengembangan obat sifilis, tuberkulosis, HIV-AIDS, penyakit hati, herpes, dan jenis papillomavirus. Sejumlah organisasi animal anti-cruelty atau anti kekejaman terhadap hewan mencoba menekan penggunaan hewan sebagai alat percobaan tersebut. Sebab, praktik ini dapat menyakiti dan membahayakan hewan-hewan percobaan.

Dikutip dari laman American Anti-Vivisection Society, kelinci juga digunakan dalam penelitian racun pada kosmestika dan produk sehari-hari. Hal ini menyebabkan kerusakan mata dan iritasi kulit pada kelinci yang menyakitkan. Karena itu, sejumlah produk kosmetik yang mendukung animal anti-cruelty menghentikan praktik ini dan memasang label anti kekejaman pada hewan di produknya.

Terlepas dari proses percobaan yang dilakukan, lingkungan laboratorium juga menyebabkan stres pada kelinci. Tekanan ini juga menyebabkan penurunan imun dan peningkatan risiko penyakit pada hewan. Lantas, kenapa kelinci dijadikan hewan percobaan, berikut ini ulasannya.

1. Jinak dan Tidak Agresif.

Kelinci merupakan hewan jinak yang tidak agresif, sehingga lebih mudah ditangani dan diamati. Dikutip dari penelitian Mapara dkk., hal ini memudahkan peneliti mendapat kelinci dari padang rumput, hutan, dan peternakan.

2. Banyak di kembangbiakkan dan ekonomis.

Kelinci banyak di kembangbiakkan dan dianggap sangat ekonomis jika dibandingkan dengan biaya memperoleh hewan yang lebih besar. Meskipun struktur mikro dan makro tulang kelinci tidak mirip dengan manusia, kelinci digunakan sebagai hewan percobaan sebelum uji coba lanjutan pada hewan besar. Dengan demikian, biaya yang dikeluarkan bisa lebih rendah jika uji coba pertama tidak berjalan sesuai rencana.

Di samping itu, tingkat reproduksi kelinci yang tinggi membuatnya digunakan dalam pengujian embryotoxicity. Pengujian ini mengetes seberapa bahaya sebuah produk bagi janin atau ibu hamil.

3. Siklus Vital Pendek.

Siklus hidup kelinci terdiri dari siklus vital yang pendek, yaitu masa dalam kandungan, menyusui, dan menjadi dewasa. Hal ini membuat kelinci dapat segera menjadi hewan percobaan setelah lahir ketimbang hewan besar yang punya siklus vital lama, seperti gajah yang menunggu bertahun-tahun untuk jadi dewasa.

4. Perizinan.

Kategori kelinci sebagai hewan kecil membuat perizinan penggunaan kelinci di percobaan terkadang hanya memerlukan izin dari komite etik lokal. Sementara itu, hewan yang lebih besar memerlukan izin tambahan dari komite etik pusat. Dengan begitu, penggunaan kelinci sebagai hewan percobaan saat itu dianggap menghemat waktu dalam urusan perizinan ketat.

5. Fasilitas Pemeliharaan.

Fasilitas pemeliharaan harus disediakan untuk hewan besar yang akan dibedah sebagai bagian dari perizinan etis. Kriteria fasilitas pemeliharaan yang terperinci dan dianggap mahal ini membuatnya terkadang hanya dimiliki oleh pusat penelitian hewan saja. Karena itu, hewan kecil seperti kelinci dianggap lebih mudah digunakan dalam pembuatan fasilitas pemeliharaannya.

Nah, rupanya sifat jinak hingga perhitungan biaya menjadi penyebab kenapa kelinci dijadikan hewan percobaan.

Tetapi, seperti yang juga disebutkan dalam post di atas, "Selain kelinci, tikus juga menjadi hewan yang sering digunakan dalam percobaan di laboratorium, sehingga muncul pula istilah tikus lab."

Dikutip dari berbagai sumber

 

(Ab Hadi/KIM)